Mungkin ada
yang menilaiku sebagai pengejar impian setengah sinting. Yang bergantung pada
harapan-harapan kosong, terus menunggu untuk sesuatu yang nyatanya tak akan
pernah datang. Yah, sehebat itulah orang yang menilai.
Tapi apalah,
aku masih akan terus melangkah mengejar impian-impian yang ku percaya pada
akhirnya akan terwujud. Meski ku akui, terkadang langkah ini surut. Sering kali
lelah itu datang menyergap. Tak pernah menyerah, hadangan itu coba menancapkan
taringnya.
Tak peduli,
sesedih apa jalan yang harus dilewati. Tak gentar, sesakit apa jalan yang harus ditempuh. Tak menyerah,
seperih apa jalan yang harus dipijaki. Karena lelaki ini telah bertekad. Sebuah
janji yang akan terus berusaha diwujudkan hingga tiba waktunya Sang Maha Baik
memanggil dan berkata “Sudah cukup, waktunya pulang”.
Aku pernah
selalu berada di balik punggung sang Lelaki hebat. Orang yang dipilih sebagai
penuntunku, saat aku mulai mengenal dunia. Seorang Lelaki luar biasa, yang
mengajarkan banyak hal tentang dunia. Seorang Lelaki tangguh, yang
mengajarkanku untuk terus berusaha dan tak pernah menyerah memberikan segala
daya dan upaya untuk kebaikan orang banyak.
Yah, dibalik
punggung lelaki seperti itulah, diri ini dibesarkan. Lelaki terhebat dimana
diri ini dititipkan Sang Maha Baik. Yang Aku, Kakak dan Adikku memanggilnya “Papa”.
Tak terasa
hampir 7 tahun sejak kepergianmu, Pa.
Harus ku
akui ada saat-saat diri ini begitu hebat merindukanmu. Begitu ingin meminta
satu-dua petuah darimu, saat rasanya lelah itu begitu hebat menyapa. Merasakan lagi
elusan tanganmu di kepalaku, saat aku bisa menyelesaikan tantangan ataupun
melakukan sesuatu yang membuatmu bangga seperti dulu.
Mungkin saja
jalan yang ku tempuh tak akan sesulit ini, andai saja ada Papa yang
mengarahkanku. Tetapi seperti yang selalu kau katakan, saat aku mengeluh. “Kalau
cara itu tak berhasil, ganti dengan cara yang lain. Tetapi jangan ganti
impianmu. Yang Maha Kuasa pasti tak akan menutup mata dengan segala usahamu”.
Hampir 7
Tahun sejak kepergianmu. 9 tahun sejak engkau membicarakan tentang impianmu
kepadaku. Dan dengan melihat punggungmu, karakterku terbentuk. Yang membuatku
percaya, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu yang
terjadi, pasti dimaksudkan Sang Maha Baik dengan tujuan tertentu.
Karena
itulah aku belum akan menyerah, Pa. Karena Lelaki kecilmu ini telah bertekad, untuk
mewujudkan segala apa yang kita bicarakan.
Karena entah
sejak kapan, impianmu telah menjadi impianku juga.
In Loving
memory : Ali Masloman 16 Juni 1953 – 13 September 2008
Kamu orang yang kuat. Berjuanglah demi mimpimu, kamu bisa. Kamu bukan setengah sinting, mereka yang mengatakan itu hanya memiliki pola pikir beda. Tetap semangat! :)
BalasHapusMakasih dukungannya. Pati tetap selalu semangat !!! :)
Hapussemangat bang :)
BalasHapusInsya ALLAH, selalu !!!
HapusMakasih Bang :)
Insya ALLAH, selalu !!!
HapusMakasih Bang :)