Selasa, 16 Juni 2015

ENTAH SEJAK KAPAN, IMPIANMU TELAH MENJADI IMPIANKU JUGA

Mungkin ada yang menilaiku sebagai pengejar impian setengah sinting. Yang bergantung pada harapan-harapan kosong, terus menunggu untuk sesuatu yang nyatanya tak akan pernah datang. Yah, sehebat itulah orang yang menilai.

Tapi apalah, aku masih akan terus melangkah mengejar impian-impian yang ku percaya pada akhirnya akan terwujud. Meski ku akui, terkadang langkah ini surut. Sering kali lelah itu datang menyergap. Tak pernah menyerah, hadangan itu coba menancapkan taringnya.

Tak peduli, sesedih apa jalan yang harus dilewati. Tak gentar, sesakit apa  jalan yang harus ditempuh. Tak menyerah, seperih apa jalan yang harus dipijaki. Karena lelaki ini telah bertekad. Sebuah janji yang akan terus berusaha diwujudkan hingga tiba waktunya Sang Maha Baik memanggil dan berkata “Sudah cukup, waktunya pulang”.

Aku pernah selalu berada di balik punggung sang Lelaki hebat. Orang yang dipilih sebagai penuntunku, saat aku mulai mengenal dunia. Seorang Lelaki luar biasa, yang mengajarkan banyak hal tentang dunia. Seorang Lelaki tangguh, yang mengajarkanku untuk terus berusaha dan tak pernah menyerah memberikan segala daya dan upaya untuk kebaikan orang banyak.

Yah, dibalik punggung lelaki seperti itulah, diri ini dibesarkan. Lelaki terhebat dimana diri ini dititipkan Sang Maha Baik. Yang Aku, Kakak dan Adikku memanggilnya “Papa”.



Tak terasa hampir 7 tahun sejak kepergianmu, Pa.
Harus ku akui ada saat-saat diri ini begitu hebat merindukanmu. Begitu ingin meminta satu-dua petuah darimu, saat rasanya lelah itu begitu hebat menyapa. Merasakan lagi elusan tanganmu di kepalaku, saat aku bisa menyelesaikan tantangan ataupun melakukan sesuatu yang membuatmu bangga seperti dulu.

Mungkin saja jalan yang ku tempuh tak akan sesulit ini, andai saja ada Papa yang mengarahkanku. Tetapi seperti yang selalu kau katakan, saat aku mengeluh. “Kalau cara itu tak berhasil, ganti dengan cara yang lain. Tetapi jangan ganti impianmu. Yang Maha Kuasa pasti tak akan menutup mata dengan segala usahamu”.

Hampir 7 Tahun sejak kepergianmu. 9 tahun sejak engkau membicarakan tentang impianmu kepadaku. Dan dengan melihat punggungmu, karakterku terbentuk. Yang membuatku percaya, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu yang terjadi, pasti dimaksudkan Sang Maha Baik dengan tujuan tertentu.

Karena itulah aku belum akan menyerah, Pa. Karena Lelaki kecilmu ini telah bertekad, untuk mewujudkan segala apa yang kita bicarakan.

Karena entah sejak kapan, impianmu telah menjadi impianku juga.

In Loving memory : Ali Masloman 16 Juni 1953 – 13 September 2008

5 komentar:

  1. Kamu orang yang kuat. Berjuanglah demi mimpimu, kamu bisa. Kamu bukan setengah sinting, mereka yang mengatakan itu hanya memiliki pola pikir beda. Tetap semangat! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih dukungannya. Pati tetap selalu semangat !!! :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Insya ALLAH, selalu !!!

      Makasih Bang :)

      Hapus
    2. Insya ALLAH, selalu !!!

      Makasih Bang :)

      Hapus