Hari ini aku awali dengan mendoakan yang terbaik untukmu. Tidak,
bukan hanya hari ini. Setiap haripun selalu, segala yang terbaik untuk
kehidupanmu.
Belakangan memang kita rasanya jauh. Sangat jauh. Meskipun rasanya aneh,
tetapi begitulah kenyataannya.
Entahlah, aku tak lagi bisa merasa sedekat dulu denganmu. Meskipun sekarang
jarak raga diantara kita lebih dekat dibanding dulu, tetapi hati kita berdua justru
terasa semakin jauh.
Kamu telah membuat sebuah pembatas. Batasan yang tak bisa aku lewati. Bukan
dinding, karena nyatanya aku masih bisa melihatmu. Bukan juga jurang, karena
aku tak perlu jembatan untuk mendekati wujudmu. Bukan ketinggian, karena aku
tak perlu mendongak untuk memandangmu.
Pernah pada suatu ketika di masa laluku, kekecewaan menyerangku. Kecewa
dihempaskan kenyataan, bahwa ternyata kita yang engkau maksud ternyata serapuh itu. Bahwa
kita yang dimaksud, bukanlah aku dan kamu.
Tetapi setelah sekian waktu berlalu. Aku menyadari bahwa dalam hidup,
cinta adalah sesuatu yang tak pernah bisa dipaksakan. Karena itulah aku tak
pernah bisa menjadi seseorang yang mendoakan kejatuhanmu. Karena sungguh aku menyadari,
jika itu terjadi akupun tak akan bahagia.
Yaah... begitulah. Mungkin jarak telah memenangkan pertarungannya
dengan kita. Meskipun tentu saja aku tak pernah menyerah, tetapi tidak demikian
denganmu. Sehingga aku harus mengakui, kita telah kalah.
Hari ini aku memperbincangkan banyak hal tentangmu. Meminta segala yang
terindah, yang cukuplah menjadi perbincangan rahasia, antara aku dan Sang
Maha Baik. Meski di masa depan, mungkin kita bukanlah kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar