Jadi akhirnya kita harus kembali seperti semula. Di mana semua hal harus kembali biasa dan tak ada yang istimewa. Kalau pun ada, sudah waktunya memendamnya sendiri. Yah, seperti saat lalu.
Entah apa yang harus aku katakan, mungkin memang lebih baik biarkan saja begini. Apa adanya, tak harus terucap. Hingga waktu kan membuat semuanya jelas, tanpa lagi tanya kemana arah jalan kita.
Apakah akan kembali seiring atau menjadi sebuah sejarah yang terulang lagi dan lagi?
Biarlah. Tak perlu memaksa mencari jawabnya sekarang.
Yang jelas, tetap akan ada waktunya laut dan langit kembali biru. Meski mungkin butuh waktu entah berapa lama, untuk membiru seperti dahulu.
Atau nyanyian jatuhan hujan akan kembali menyenandungkan nada-nada ceria.
Biarkan semua berjalan seperti yang telah digariskan. Lagipula, saat-saat seperti ini bukanlah yang pertama. Pengalaman telah mengajarkanku banyak hal, termasuk caranya mengikhlaskan.
Rasanya tak perlu lagi dijelaskan panjang lebar, bahwa aku telah belajar dan terlatih mengikhlaskan. Terbiasa mendoakan hal-hal baik untuk yang dicintai.
Sudahlah, mari kita nikmati saja saat-saat ini. Saat tak ada lagi beban dan ikatan yang (mungkin) membuat langkah kita terasa dihalang-halangi.
Kelak pada saatnya, jika ternyata kita mengambil langkah yang berbeda, ingatlah. Bahwa kita pernah mencoba, namun terhenti.
Bukan gagal, tetapi mungkin ada pelajaran yang bisa kita ambil.
Termasuk mengikhlaskan.
Dan jika kelak jalan kita tak lagi bersinggungan, perkenankan aku pada saat itu mengucapkan maaf.
Maaf atas mimpi-mimpi yang kelak kan terwujud tanpa engkau di sisiku.
Atas perjuangan yang harus diteruskan masing-masing.
Apakah akan kembali seiring atau menjadi sebuah sejarah yang terulang lagi dan lagi?
Biarlah. Tak perlu memaksa mencari jawabnya sekarang.
Yang jelas, tetap akan ada waktunya laut dan langit kembali biru. Meski mungkin butuh waktu entah berapa lama, untuk membiru seperti dahulu.
Atau nyanyian jatuhan hujan akan kembali menyenandungkan nada-nada ceria.
Biarkan semua berjalan seperti yang telah digariskan. Lagipula, saat-saat seperti ini bukanlah yang pertama. Pengalaman telah mengajarkanku banyak hal, termasuk caranya mengikhlaskan.
Rasanya tak perlu lagi dijelaskan panjang lebar, bahwa aku telah belajar dan terlatih mengikhlaskan. Terbiasa mendoakan hal-hal baik untuk yang dicintai.
Sudahlah, mari kita nikmati saja saat-saat ini. Saat tak ada lagi beban dan ikatan yang (mungkin) membuat langkah kita terasa dihalang-halangi.
Kelak pada saatnya, jika ternyata kita mengambil langkah yang berbeda, ingatlah. Bahwa kita pernah mencoba, namun terhenti.
Bukan gagal, tetapi mungkin ada pelajaran yang bisa kita ambil.
Termasuk mengikhlaskan.
Dan jika kelak jalan kita tak lagi bersinggungan, perkenankan aku pada saat itu mengucapkan maaf.
Maaf atas mimpi-mimpi yang kelak kan terwujud tanpa engkau di sisiku.
Atas perjuangan yang harus diteruskan masing-masing.
Atas doa-doa yang kutujukan untukmu, dan doamu yang kau tujukan untukku yang ternyata kalah dengan doa entah siapa, yang meminta masing-masing kita untuk mereka.
Atau mungkin salah satu dari kita, memang telah berhenti untuk mendoakan?
Tetapi tetap maaf, maaf jika Bidadari Kedua itu ternyata bukan engkau.
Yaah... Apapun pilihan masing-masing kita... Ah, mungkin tak ada lagi kata "kita," hanya aku dan kamu.
Apalah, yang jelas jangan lupa bahagia.
Tetapi tetap maaf, maaf jika Bidadari Kedua itu ternyata bukan engkau.
Yaah... Apapun pilihan masing-masing kita... Ah, mungkin tak ada lagi kata "kita," hanya aku dan kamu.
Apalah, yang jelas jangan lupa bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar