Lelah itu
akhirnya tak sanggup ku bendung lagi, sekian waktu yang ku paksakan untuk
memeranginya akhirnya ditumbangkan oleh sebuah rasa yang bukan “menyerah atau
pun putus asa”. Mungkin “bosan” adalah kata yang paling tepat untuk
menggambarkan perasaan ini.
Seandainya
kamu tahu bahwa tak pernah sekali pun aku berusaha memungkiri tentang kita,
ditengah deraan takdir yang terwakilkan oleh keangkuhan orang-orang yang merasa
menguasai dan paling tahu tentang takdir dan masa depan melebihi sang penguasa
alam ini sendiri. Bahwa saat kita terpisahkan oleh jarak, ruang dan waktu tak
sekali pun kesetiaan ini ku abaikan dan tak sekali pun memungkiri keberadaanmu.
Bahwa pada masa-masa sulit yang ku hadapi kamulah pemilik hati yang paling
ingin ku curahkan dan membagi segala lelah ini. Bahwa terkadang aku berharap
bahwa aku bisa berada di dua tempat sekaligus, agar bisamengejar impian demi
masa depan kita tapi sekaligus tetap selalu bisa berada disisimu.
Tapi
sudahlah, di matamu mungkin aku hanyalah seorang pemimpi yang memasang terlalu
tinggi target impiannya. Atau mungkin hanya seseorang yang tetap mencintai
dirimu saat rasa yang kau miliki telah menyusut menjadi sebutir pasir, sesuatu
yang terlalu kecil dan tak berharga untuk dipertahankan lebih lama. Berulang
kali kamu mencoba menyadarkanku agar terbangun dari “kebodohanku”, namun tetap
saja aku bertahan untuk tertidur dengan kesadaran penuh.
Saat itu aku
berpikir mungkin untuk selamanya bisa seorang diri mempertahankan hubungan ini,
tapi seperti biasa “kebosanan”, sebuah rasa yang paling sering mengganggu dalam
setiap gerak langkah hidupku, masih setia menghantui. Dan kali ini aku tak bisa
mengabaikannya.
Dan seperti
yang kau selalu ungkapkan sejak lama, akhirnya aku telah sampai di ujung
lelahku. Dan -meski aku selalu menolak untuk menyebutnya- “kebodohan” ini harus
diakhiri.
Seorang
teman pernah berkata:
“being in
love means being yourself. True Love is when you find someone who accepts and
appreciates you for who and what you are”
Dan ia
benar, kita tak pernah memilikinya. Terlalu banyak hal yang kita paksakan untuk
tetap bersama. Karena perbedaan bagimu adalah sebuah bencana, perbedaan adalah
masalah yang hatimu selalu menghindar untuk menerimanya sebagai suatu hal
menarik yang saling melengkapi untuk membuat hidup lebih berwarna.
“Only Lover
that understand your heart can bring about a bit of peace, and it’s feels so
sad that you’re no longer become my place where i belong and where i can be
my-self ”
Kita
kehilangan itu. Wajahmu tak lagi meneduhkan, suaramu tak lagi bisa menenangkan.
Warna-warna kita kini telah perlahan memudar dan menjadi suram.
Harus ku akui, mungkin sesudah ini akan ada banyak saat-saat dimana tetesan hujan
akan setia memaksaku untuk selalu mengingatmu. Tapi sekali lagi sudahlah,
mungkin ini adalah yang terbaik bagimu dan –semoga- juga untukku. Dan doaku akan selalu menyertai
kemana pun kau pergi dan melangkah, untuk kebahagiaanmu saat ini dan di masa
depan nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar